KENAPA NGGEDABRUS ITU PERLU: TEORI EMERGENTISM DALAM BELAJAR BAHASA

Salah satu teori terbaru dalam dunia pendidikan bahasa adalah Emergentism. Sebelum mengurai lebih jauh tentang penerapannya dalam bidang pengajaran bahasa, ada baiknya kita berangkat dari awal perkembangannya dulu.

Teori Emergentism berpijak pada satu kerangka teori yang lebih mendasar, yaitu Teori Kompleksitas (Complexity  Theory) yang dipelopori oleh Nick Ellis dan Diane Larsen-Freeman. Pada dasarnya, teori ini mengatakan bahwa pada suatu sistem yang kompleks, terjadi interaksi antara berbagai elemennya yang memicu sebuah pola atau entitas baru yang disebut “emergence”. Pola ini bersifat unik dalam arti asal-muasalnya relatif tidak bisa ditelusuri dari individu-individu yang saling berinteraksi tadi. Dengan kata lain, ia muncul sebagai satu respon khas dari sebuah kompleksitas yang dinamis dalam sebuah sistem. Contoh sederhananya adalah perilaku kita ketika mengemudikan kendaraan di jalan raya yang sedang ramai. Lalu lintas ini menjadi sistem yang kompleks karena banyaknya elemen yang terlibat di dalamnya. Ada mobil, sepeda motor, pesepeda kayuh, bahkan pejalan kaki di pinggir jalan. Pada situasi seperti itu, entah bagaimana semua jenis elemen itu menunjukkan perilaku yang sedemikian sehingga jarang sekali terjadi tabrakan antar mereka. Perilaku menjaga jarak dengan kendaraan di depan, mengerem, bahkan sedikit melambatkan kendaraan ketika ada sepeda motor berbelok memotong lajur, terjadi begitu saja tanpa ada kesepakatan atau bahkan komando dari salah satu pihak. Yang lebih menarik, hampir semua perilaku itu tidak bisa ditelusuri asal muasalnya dari para individu atau setiap elemen yang terlibat. Semua terjadi karena interaksi mereka dalam sebuah sistem yang kompleks tersebut. Tanpa mekanisme itu, niscaya yang terjadi adalah tubrukan atau serempetan hampir setiap menit.

Contoh yang lain adalah perilaku sekelompok burung yang sedang hinggap di tanah atau di pepohonan. Ketika ada gangguan, misalnya seseorang datang dan mengusir mereka dengan gerakan dan teriakan mendadak, para burung itu langsung terbang begitu saja tanpa bertabrakan satu sama lain. Seolah-olah mereka punya naluri atau indera keenam yang memampukan mereka terbang tanpa bertabrakan.

Hal serupa ternyata tidak jauh berbeda dengan yang terjadi ketika seseorang belajar bahasa asing. Teori Emergentism menyatakan bahwa kecakapan bahasa asing merupakan akibat dari bertemunya tiga  faktor utama, yakni masukan/input bahasa, kemampuan kognitif (memahami, menghafalkan, menerapkan, menciptakan), dan interaksi sosial. Ketiga faktor ini bertemu dan saling berinteraksi dalam satu ruang pembelajaran, baik di dalam maupun di luar kelas, baik melalui media digital atau media cetak konvensional, baik dalam situasi formal atau situasi informal seperti percakapan santai dengan seorang penutur asli.

Masukan bahasa adalah apapun yang diterima dan dipahami oleh para pembelajar. Masukan bisa berupa ujaran guru, ujaran dari teman sekelasnya, bacaan dari buku teks atau materi lain, materi audio dari Internet, dan semua jenis lain yang bisa dipahami oleh pembelajar.

Kemampuan kognitif, seperti dicontohkan di atas, adalah kemampuan untuk mengerahkan daya pikir mereka dalam menghafal, menyimpan informasi di ingatan jangka pendek dan jangka panjang, mengingat kembali informasi tersebut, dan menerapkannya untuk memecahkan suatu masalah atau menciptakan sebuah rangkaian kalimat atau bahkan sebuah wacana. Dalam pembelajaran bahasa, dikenal pula dua perilaku otak yaitu pembelajaran statistik dan pengenalan pola. Artinya, otak sang murid mampu menyimpulkan sendiri pola-pola bahasa setelah kepadanya dideraikan bentukan-bentukan kalimat dalam frekuensi yang sangat sering.

Interaksi sosial adalah kegiatan mereka berkomunikasi dengan orang lain. Ini bisa terjadi ketika mereka bercakap-cakap dengan guru/dosen atau teman sekelasnya, bersentuhan dengan budaya dari bahasa yang sedang mereka pelajari, dan bahkan bercakap-cakap dengan penutur aslinya.

Ketika ketiga faktor itu saling berinteraksi, muncullah apa yang disebut “emergence” tadi, yaitu perilaku kebahasaan yang unik dan relatif tidak bisa ditelusuri jejaknya ke salah satu dari ketiga faktor tersebut.

Paparan di atas mengimplikasikan satu hal penting dalam pembelajaran bahasa asing, yakni bahwa ketiga faktor pendukung tersebut harus dihadirkan dalam ruang belajar para murid. Tidaklah cukup mengajar mereka di kelas mengikuti satu buku teks yang dibahas dan dikerjakan mulai dari unit 1 sampai unit terakhir. Para murid harus juga dilibatkan dalam sebuah situasi yang memaksa mereka untuk berinteraksi dengan sesama manusia, atau bahkan dengan penutur aslinya.  Mereka harus terlibat dalam sebuah task-based language learning, yaitu merampungkan sebuah tugas dengan berpijak pada elemen kebahasaan. Akan baik kalau mereka juga berpartisipasi dalam gelaran pemahaman lintas budaya, atau sekedar ikut conversation club. Hal ini juga menjelaskan mengapa belajar bahasa asing hanya melalui apps, misalnya Duolingo, tanpa pernah berinteraksi dengan orang lain atau penutur asli bahasa tersebut cenderung  lamban atau bahkan tidak efektif. Ini karena tidak adanya interaksi dengan satu faktor penting yang dijelaskan di atas tadi. Ketiadaan salah satu faktor membuat kemampuan bahasa tidak muncul, atau tidak “emerge”.

Uraian di atas juga menyiratkan pentingnya menggunakan bahasa sasaran ketika sudah berada di luar kelas. Ketika seorang dosen atau guru menggunakan bahasa sasaran tersebut dalam bercakap-cakap dengan muridnya di luar kelas, ketiga faktor itu hadir dalam sistem yang kompleks itu: masukan/input dari sang guru, kemampuan kognitif sang murid dalam memahami ucapan dan menyusun responsnya, dan interaksi sosial. Ketiganya saling berkelindan untuk membuat sang murid mampu memunculkan ujaran dalam bahasa  sasaran.

Kita bandingkan situasi di atas dengan situasi dimana bahasa sasaran hanya digunakan dan dibahas di sesi kelas yang notabene formal itu saja. Di luar kelas, guru atau dosen dan para muridnya ternyata beralih ke bahasa Indonesia sehingga salah satu faktor penting tadi, yaitu interaksi sosial dalam bahasa sasaran, menjadi absen. Ini mengingatkan penulis pada dua orang mahasiswi Jepang yang sama-sama kuliah di Victoria University of Wellington, New Zealand, pada tahun 1992. Mereka konsisten sekali menggunakan bahasa Inggris bahkan ketika mereka sedang berbincang di kantin  atau di tempat lain. Ketika ditanya kenapa mereka tidak berbicara dalam bahasa Jepang saja, mereka menjawab: “kami membayar mahal untuk bisa kuliah dan belajar bahasa Inggris disini. Kalau kami terus menerus berbicara bahasa Jepang, lantas kapan kami bisa menguasai bahasa Inggris?” Kendati ada faktor finansial yang melatarbelakangi alasan mereka, tak pelak lagi kedua mahasiswi Jepang itu tanpa sadar sudah mempraktekkan Teori Emergentism dalam perilaku belajarnya.

 


Posted

in

,

by

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *