Bahwa peradaban senantiasa berubah adalah satu keniscayaan. Namun, ketika perubahan itu dirasa semakin cepat dan tak jarang mengagetkan, tentu sebagai makhluk berakal budi kita dituntut untuk senantiasa fleksibel dan sigap dalam meresponsnya. Lambat merespon berarti ketinggalan jaman. Ketinggalan jaman berarti menjadi usang, lapuk, dan akhirnya dilupakan. Tulisan singkat ini mengupas beberapa aspek kehidupan yang sudah atau sedang berubah wujud akibat derasnya kemajuan teknologi, khususnya teknologi Artificial Intelligence (AI).
Puluhan tahun silam, orang memerlukan untuk membuka ensiklopedia atau kamus yang bisa setebal bantal bayi untuk mengetahui satu hal secara mendalam. Ketika era Google datang, kedua benda itu menjadi barang kuno. Orang mencari dan mendapatkan informasi dengan bertanya kepada Google. Muncul ungkapan “just Google it!” atau “digoogle aja!”
Namun siapa sangka era Google pun ternyata sudah hampir berlalu. Ketika AI datang dalam wujud ChatGPT di akhir 2022 dan makin meruyak di tahun 2023 dan seterusnya, orang tidak lagi bertanya kepada Google. Semua hal, masalah, bahkan uneg-uneg ditumpahkan kepada ChatGPT dan berbagai turunan dan spesies sejenisnya. Google hanya meraja dalam waktu 27 tahun sejak 1998. Setelah itu, ChatGPT makin populer sebagai penjawab seribu satu masalah dan seribu satu sumber pengetahuan. Sekarang, ketika kita mengetikkan satu pertanyaan di kolom Google, baris pertama jawaban yang kita lihat adalah hasil racikan AI, bukan lagi sebuah website yang disodorkan oleh Google.
Ini juga akan makin terasa di dunia bisnis. Tujuh atau sepuluh tahun silam, orang masih berbicara tentang SEO (Search Engine Optimization). Kini, istilah itu sudah diganti dengan AIO (Artificial Intelligence Optimization) yang tak lain adalah cara untuk membuat tulisan kita di dunia maya segera terjaring oleh algoritma AI sehingga tampil sebagai sumber paling utama.
Mereka yang bergerak di bidang pemasaran bisnis sudah harus mempelajari ilmu baru, yakni Loop Marketing. Ini adalah teknik pemasaran yang lincah menyengat ke berbagai lini dengan bantuan AI. AI membantu mempertahankan kontak dengan pelanggan di setiap media sosial yang mereka punyai. Dipadu dengan Customer Relationship Management yang juga didukung AI, teknik Loop Marketing membuat brosur dan spanduk menjadi sarana pemasaran masa lampau yang sudah ketinggalan jaman.
Bagaimana dengan bidang pendidikan? Ini pun juga sedang berubah. Di era ini, di mana para pelaku pendidikan berpotensi merusak kemampuan otaknya sendiri dengan menyerahkan semua pekerjaan kepada AI, tentu diperlukan kebijakan baru, regulasi baru, cara pikir dan sikap baru sehingga mereka bisa menggunakan AI dalam batasan yang sehat dan etis. Maka, kurikulum yang responsif harus memuat pengenalan dan pelatihan AI, mulai dari lingkup etikanya sampai pada teknik praktisnya. Para pendidik juga seharusnya sudah mulai memetakan mana tugas-tugasnya yang bisa diserahkan kepada AI, dan mana yang harus dikerjakannya secara mandiri. Akan lebih bagus kalau mereka bisa mengetahui bagaimana mendayagunakan AI sebagai mitra kerja, dan bukan sebagai budak maha pintar dan sangat cepat yang bisa mengerjakan hampir semua tugas.
Kemendiktisaintek, melalui ketetapannya nomer 39 tahun 2025, secara implisit sudah membuka peluang untuk penggunaan AI dalam pasal 14. Fleksibilitas pembelajaran yang tercantum disitu seharusnya bisa dibaca sebagai peluang untuk mendayagunakan AI dalam pembelajaran secara etis dan sehat. Ini mengembalikan bola panas kepada program studi untuk meramu kurikulumnya sehingga bisa memuat unsur AI di dalamnya sembari tetap mengasah kecakapan berpikir tingkat tinggi para mahasiswanya.
Yang mungkin tidak sedrastis AI namun sudah cukup memaksa pengubahan dalam dunia pendidikan adalah fasilitas analytics dalam Learning Management Systems. Dalam setiap LMS, para guru dan dosen sebenarnya bisa memperhatikan seberapa besar motivasi belajar dan kinerja anak didiknya. Bagian analytics, jika dilihat, akan memberikan informasi tentang siapa yang sudah mengakses materi ajar sebelum kelas, dan apakah mereka menyisihkan waktu untuk mengerjakan atau setidaknya membaca materi tersebut. LSM gratis sekelas Nearpod atau yang berbayar seperti MSTeams sudah menyediakan fasilitas ini. Terpulang kepada para guru dan dosen untuk mendayagunakannya dalam upayanya mengenal profil belajar dan motivasi para anak didiknya. Kelanjutan dari langkah ini akan menjadi bibit dari apa yang disebut personalized learning, yaitu belajar sesuai dengan pilihan sendiri yang berkaitan dengan gaya belajar, waktu belajar, dan tempat belajar. Hal belajar sesuai dengan preferensi pribadi ini menjadi penting di jaman hampir semua prodi sedang merintis pembelajaran jarak jauh.
Peta pekerjaan pun sudah makin berbeda dari puluhan bahkan belasan tahun silam. Hampir semua bidang pekerjaan mendapat sentilan disruptif dari AI. Yang terbaru adalah makin tersingkirnya para programmer junior dari medan pekerjaan yang memerlukan pemrograman. Lulusan jurusan teknik informatika makin terancam sulit mendapatkan pekerjaan karena bidang yang dulu mereka garap sudah digantikan oleh AI. Di bidang penerjemahan, tak kurang seorang kenalan penulis yang memiliki lembaga penerjemahan cukup kondang terpaksa merambah bidang lain atau menciptakan layanan kreatif lain karena peran penerjemah pun sudah banyak digantikan AI. Lulusan yang ingin diperhitungkan oleh dunia industri harus menekuni ilmu-ilmu baru yang erat berkaitan dengan AI, seperti analisis bisnis dengan AI, pelatih AI, sampai pada perancang Small Language Model untuk skala terbatas sebuah industri kecil.
Makin banyaknya sumber belajar di dunia digital dan sepak terjang AI yang makin meluas memaksa para pendidik untuk merenungkan kembali bagaimana pengajaran ketrampilan dilakukan untuk para murid dan mahasiswa. Dengan makin banyaknya kredensial mikro dan sumber belajar digital, seorang muda yang bermotivasi tinggi dan cukup cerdas mungkin merasa tidak perlu harus menempuh 4 tahun untuk meraih gelar sarjana. Dia bisa mengikuti sertifikasi disana sini sesuai dengan minat dan talentanya, dan memperkaya wawasannya dengan menyimak sumber belajar yang juga banyak tersedia. Sertifikat keahlian yang kemudian diperolehnya bisa nampak lebih menggiurkan di mata pemberi kerja daripada selembar ijazah universitas.
Pendek kata, era AI memaksa kita untuk memikirkan kembali konsep-konsep dasar yang selama ini kita ikuti nyaris tanpa pertanyaan reflektif kritis. Hanya dengan begitu cara pikir, sikap, dan keluwesan kita menjadi hal yang senantiasa bergerak mengikuti perubahan jaman.
Leave a Reply