Pendekatan pembelajaran bahasa asing sedang mengalami perubahan besar. Beberapa orang menyebutnya “seismic shift” yang artinya “perubahan yang setara dengan pergeseran lempeng bumi yang memicu gempa dahsyat”. Pergeseran ini berkaitan dengan cara pandang terhadap bahasa yang digunakan dalam kegiatan belajar. Selama beberapa dekade sejak tahun 1960 an, orang percaya bahwa semakin sering para murid menggunakan bahasa sasaran, semakin besar peluangnya untuk menjadi fasih dalam bahasa tersebut. Bahasa ibu dianggap unsur penghambat yang akan memperlambat penguasaan bahasa sasaran. Teknik Grammar Translation yang membuat murid menerjemahkan kalimat-kalimat (yang kadang terasa absurd karena tidak lumrah dalam situasi sehari-hari) diganti dengan Metode Langsung. Yang terakhir ini langsung menghadapkan mereka pada situasi yang sepenuhnya dilayari dengan bahasa sasaran. Dunia pendidikan bahasa percaya bahwa tujuan pembelajaran adalah membuat para murid akhirnya mampu berpikir dalam bahasa sasaran. Ini dicapai dengan membuat mereka mengujarkan isi pikirannya dalam bahasa sasaran tersebut. Bahasa ibu dan bahasa sasaran dipandang sebagai dua entitas terpisah di benak sang murid. Masing-masing mempunyai fungsi sosial dan kognitifnya sendiri-sendiri. Paham ini disebut juga sebagai “monoglossic” (bahasa tunggal). Artinya, bahasa ibu dan bahasa sasaran dianggap sebagai sistem terpisah dalam benak sang murid. Keduanya harus dipisah supaya tidak terjadi pencampuran atau bahkan pencemaran bahasa sasaran oleh unsur bahasa ibu.
Namun itu adalah gambaran masa lampau. Pada saat ini tengah berkembang cara pikir lain. Paham “monoglossic” tadi tidak lagi diyakini sebagai realita pembelajaran bahasa; ia digantikan oleh paham “heteroglossic”. Konsep heteroglossic ini memandang bahasa ibu dan bahasa sasaran sebagai dua entitas bahasa yang saling mengisi dan berkelindan untuk memampukan sang murid menguasai sebuah konsep ilmu. Sebagai contoh, ada seorang murid Indonesia yang sedang belajar tentang manfaat sel punca dalam biologi dan sedang belajar untuk menyajikannya dalam bahasa Inggris. Paradigma translanguaging akan mengijinkannya untuk membaca teks dalam bahasa Indonesia tentang sel punca sehingga ia paham benar konsep tersebut, kemudian berangsur-angsur belajar untuk menyajikannya dalam bahasa Inggris. Jadi, bahasa Indonesia bertujuan untuk membantunya memahami konsep sel punca tersebut, dan bahasa Inggris bertujuan untuk membantunya menyajikannya kepada audiens global. Dengan kata lain, kedua bahasa ini bekerja sama untuk memastikan bahwa sang murid mampu menguasai isi pengetahuan tersebut (sel punca) dan akhirnya mampu pula menyajikannya dalam bahasa sasaran, yakni bahasa Inggris.
Di masa lampau, yang dilakukan adalah memaksa sang murid untuk memahami teks tentang sel punca dalam bahasa Inggris, kemudian memaksa dia pula untuk bisa menyajikannya dalam bahasa Inggris. Dari kacamata translanguaging, pendekatan ini diyakini membebani sumber daya kognitif sang murid karena ia harus mengerahkan sumber daya itu untuk memahami konsep suatu ilmu sekaligus belajar bagaimana menyajikannya dalam bahasa Inggris. Akibatnya, ia kewalahan. Bisa saja ia sebenarnya sudah menguasai konsep ilmu tersebut, namun ternyata membisu karena memang belum tahu bagaimana mengujarkannya dalam bahasa Inggris.
Ini membawa pada perbedaan antara alih kode (code-switching) dengan translanguaging. Pada alih kode tersirat keyakinan monoglossic, yakni bahwa entitas bahasa ibu dianggap terpisah dari bahasa sasaran. Beralih dari bahasa sasaran ke bahasa ibu dianggap sebagai satu kegagalan belajar. Sebaliknya, dalam translanguaging, tindakan itu dianggap sebagai tanda bahwa sang murid sedang melayari dunia wacana kompleks yang melibatkan penerjemahan dan penggunaan lebih dari satu bahasa. Beralih dari satu bahasa ke bahasa lain adalah hal yang lumrah saja dari perspektif translanguaging. Seorang murid yang sedang menjelaskan sebuah konsep ilmiah dalam bahasa Inggris kemudian mendadak beralih ke bahasa ibunya menandakan bahwa ia sedang mengeksekusi sebuah tindakan kognitif tingkat tinggi dengan cara mengerahkan semua bahasa yang diketahuinya.
Konsep heteroglossic dan teori Beban Kognitif di atas mengejawantah menjadi teknik pembelajaran bahasa asing di kelas. Guru akan mengijinkan para murid membaca sebuah konsep dalam bahasa Indonesia, kemudian berangsur-angsur menyiapkan diri untuk membahasnya dalam bahasa sasaran. Atau, setelah benar-benar memahami konsep itu, mereka akan menyajikannya di depan kelas dalam bahasa sasaran.
Dalam pengajaran membaca, guru akan menyuruh para murid membaca teks berbahasa sasaran, kemudian menjawab pertanyaan bacaan dengan bahasa Indonesia. Jika murid dibiarkan menjawab dengan bahasa sasaran, kemungkinan besar mereka hanya akan memenggal bagian-bagian teks yang terasa sebagai jawaban, dan itu bukan tanda pemahaman. Menjawab dalam bahasa Indonesia menandakan benak mereka sudah memproses isi bacaan tersebut sehingga mampu menuangkan jawabannya dalam bahasa lain.
Teknik Identity Text membuat para murid menulis tentang salah satu aspek budayanya dalam bahasa ibu, kemudian dengan bantuan guru atau AI, menerjemahkannya ke bahasa sasaran. Hasilnya dipajang berdampingan. Teknik ini diyakini akan menguatkan identitas budaya sang murid dan melatih kemampuannya menuangkannya ke orang lain dengan bahasa sasaran.
Di mata para pendidik, translanguaging pun lumrah dilakukan. Seorang guru bahasa melakukannya untuk mengelola tuntutan situasional dan kognitif yang senantiasa bergerak dinamis di kelas. Ketika mengajar dengan bahasa Inggris lalu mendadak bertanya “bagaimana, kalian sudah paham belum?”, seorang guru sedang menjaga suasana afektif anak didiknya. Teguran lisan, atau penekanan pada hal-hal penting bisa saja dilontarkan dalam bahasa Indonesia untuk memastikan sang murid mencamkan hal-hal tersebut.
Pada akhirnya, translanguaging membuka cakrawala baru dalam pengajaran bahasa di sekolah atau universitas. Tentu, sebagai suatu pemikiran alternatif, ia akan mendapat pertanyaan dan tantangan dari para pakar dengan paradigma berbeda. Namun ini sah-sah saja dan bahkan sehat dalam suatu ruang diskursus ilmiah dimana pemikiran dan perbedaan pendapat adalah bahan bakarnya.
Leave a Reply